Rabu, 19 September 2012

Tugas Pengolahan Citra

Rekontruksi Citra

Istilah rekonstruksi citra umum dipergunakan dalam lingkup pencitraan tomografi, yaitu teknik pencitraan yang menghasilkan gambaran potongan lintang suatu objek melalui pengolahan terhadap sinyal proyeksi trans-aksial dari objek tersebut. Sinyal proyeksi trans-aksial diperoleh dengan cara memberikan radiasi terhadap objek dalam berbagai sudut orientasi. Modalitas pencitraan tomografi pada umumnya memiliki sistem mekanik yang mengatur rotasi posisi transduser pemancar radiasi dan transduser pendeteksi sinyal sehingga pengambilan proyeksi objek dapat dilakukan dari berbagai sudut orientasi.
       Sinyal proyeksi yang menjadi input dari proses rekonstruksi citra dapat dihasilkan dari 3 macam teknik pencitraan tomografi, yaitu:
1. Transmission Tomography
     Pada transmission tomography, sinyal informasi proyeksi diperoleh dari intensitas sinyal radiasi yang ditangkap setelah sinyal menembus objek. Contoh modalitas pencitraan yang temasuk kategori ini adalah CT-Scanner. CT-Scanner mempergunakan radiasi sinar X dalam berbagai orientasi untuk menghasilkan citra irisan lintang objek pencitraan.

2. Reflection Tomography
     Teknik tomografi refleksi banyak dipergunakan dalam aplikasi radar. Dalam aplikasi ini, sinyal informasi proyeksi objek merupakan intensitas sinyal refleksi yang dipantulkan oleh permukaan luar objek, misalnya seperti pada aplikasi doppler radar-imaging.

3. Emission Tomography
   Tomografi emisi memanfaatkan sinyal informasi berupa intensitas peluruhan radioaktif dari komponen radionuklida yang dimasukkan ke dalam objek. Dalam aplikasi medis, contoh modalitas pencitraan yang menggunakan metode tomografi emisi antara lain adalah PET (Positron Emission Tomography).

Selasa, 11 September 2012

Tugas 1 Riset Operasi

SOAL:
Sebuah perusahaan Kimia memproduksi 3 jenis obat, masing-masing obat tersebut membutuhkan 3 jenis bahan untuk memproduksinya.
- Obat tipe A memerlukan : 10gr gula, 20 gr garam dan 30 gr cuka bubuk.
- Obat tipe B memerlukan : 5 gr garam, 12 gr gula dan 15 gr cuka bubuk.
- Obat tipe C memerlukan : 16 gr garam, 20 gr gula dan 35 gr cuka bubuk.
Sedangkan persediaan bahannya : 1250 gr gula, 1350 gr garam dan 1600 gr cuka bubuk.
Waktu produksi masing-masing tipe obat, yaitu:
- tipe A 1 butir = 50 menit
- tipe B 1 butir = 75 menit
- tipe C 1 butir = 40 menit
Sedangkan waktu total yang dimiliki untuk masing-masing produksi obat, yaitu:
- tipe A = 3200 menit
- tipe B = 2950 menit
- tipe C = 3150 menit
Agar perusahaan memperolah keuntungan maksimal, buatlah model matematikanya!

JAWABAN....

Senin, 28 Mei 2012

TASK 6 VPN

PENGERTIAN VPN
 
      VPN adalah singkatan dari virtual private network, yaitu Sebuah cara aman untuk mengakses local area network yang berada pada jangkauan, dengan menggunakan internet atau jaringan umum lainnya untuk melakukan transmisi data paket secara pribadi, dengan enkripsi Perlu penerapan teknologi tertentu agar walaupun menggunakan medium yang umum, tetapi traffic (lalu lintas) antar remote-site tidak dapat disadap dengan mudah, juga tidak memungkinkan pihak lain untuk menyusupkan traffic yang tidak semestinya ke dalam remote-site.
 
KONSEP KERJA VPN
 
      Konsep kerja VPN pada dasarnya VPN Membutuhkan sebuah server yang berfungsi sebagai penghubung antar PC. Jika digambarkan kira-kira seperti ini :
internet <—> VPN Server <—-> VPN Client <—-> Client
bila digunakan untuk menghubungkan 2 komputer secara private dengan jaringan internet maka seperti ini: Komputer A <—> VPN Clinet <—> Internet <—> VPN Server <—> VPN Client <—> Komputer B
Jadi semua koneksi diatur oleh VPN Server sehingga dibutuhkan kemampuan VPN Server yang memadai agar koneksinya bisa lancar.
lalu apa sih yang dilakukan VPN ini?? pertama-tama VPN Server harus dikonfigurasi terlebih dahulu kemudian di client harus diinstall program VPN baru setelah itu bisa dikoneksikan. VPN di sisi client nanti akan membuat semacam koneksi virtual jadi nanti akan muncul VPN adater network semacam network adapter (Lan card) tetapi virtual. Tugas dari VPN Client ini adalah melakukan authentifikasi dan enkripsi/dekripsi.
Nah setelah terhubung maka nanti ketika Client mengakses data katakan client ingin membuka situs www.google.com. Request ini sebelum dikirimkan ke VPN server terlebih dahulu dienkripsi oleh VPN Client misal dienkripsi dengan rumus A sehingga request datanya akan berisi kode-kode. Setelah sampai ke server VPN oleh server data ini di dekrip dengan rumus A, karena sebelumnya sudah dikonfigurasi antara server dengan client maka server akan memiliki algorith yang sama untuk membaca sebuah enkripsi. Begitu juga sebaliknya dari server ke Client.
      Keamanan Dengan konsep demikian maka jaringan VPN ini menawarkan keamanan dan untraceable, tidak dapat terdeteksi sehingga IP kita tidak diketahui karena yang digunakan adalah IP Public milik VPN server. Dengan ada enkripsi dan dekripsi maka data yang lewat jaringan internet ini tidak dapat diakses oleh orang lain bahkan oleh client lain yang terhubung ke server VPN yang sama sekalipun. Karena kunci untuk membuka enkripsinya hanya diketahui oleh server VPN dan Client yang terhubung. Enkripsi dan dekripsi menyebabkan data tidak dapat dimodifikasi dan dibaca sehingga keamananya terjamin. Untuk menjebol data si pembajak data harus melalukan proses dekripsi tentunya untuk mencari rumus yang tepat dibutuhkan waktu yang sangat lama sehingga biasa menggunakan super computing untuk menjebol dan tentunya tidak semua orang memiliki PC dengan kemampuan super ini dan prosesnya rumit dan memakan waktu lama, agen-agen FBI atau CIA biasanya punya komputer semacam ini untuk membaca data-data rahasia yang dikirim melaui VPN.
Apakah Koneksi menggunakan VPN itu lebih cepat? Hal ini tergantung dari koneksi antara client dengan VPN server karena proses data dilakukan dari VPN otomatis semua data yang masuk ke komputer kita dari jaringan internet akan masuk terlebih dahulu ke VPN server sehingga bila koneksi client ke VPN server bagus maka koneksi juga akan jadi lebih cepat. Biasanya yang terjadi adalah penurunan kecepatan menjadi sedikit lebih lambat karena harus melewati 2 jalur terlebih dahulu temasuk proses enkripsi. VPN ini bisa digunakan untuk mempercepat koneksi luar (internasional) bagaimana caranya?
misal kita punya koneksi lokal (IIX) sebesar 1mbps dan koneksi luar 384kbps kita bisa menggunakan VPN agar koneksi internasional menjadi sama dengan koneksi lokal 1mbps. Cara dengan menggunakan VPN Lokal yang diroute ke VPN Luar internet <—->VPN Luar<—>VPN lokal <—>Client
mengapa model jaringan ini bisa lebih cepat sebab akses ke jaringan luar dilakukan oleh VPN luar lalu kemudian diteruskan oleh VPN lokal nah kita mengakses ke jaringan lokal yang berarti kecepatan aksesnya sebesar 1mbps. Tentunya diperlukan VPN dengan bandwith besar agar koneksinya bisa lancar.
 
MANFAAT DAN FUNGSI VPN
1.    Fungsi VPN
Teknologi VPN memiliki tiga fungsi utama, di antaranya adalah :
~      Confidentially (Kerahasiaan)
~      Data Integrity (Keutuhan Data)
~      Origin Authentication (Autentikasi Sumber)
2.    Manfaat VPN
      Menghubungkan kantor-kantor cabang melalui jaringan public. Dengan VPN maka perusahaan tidak perlu membangun jaringan sendiri. Cukup terhubung dengan jaringan public contohnya internet. Saat ini hampir semua kantor perusahaan pasti memiliki akses internet. Dengan demikin bisa dihemat anggaran koneksi untuk ke cabang-cabang.
      Mobile working, dengan VPN maka karyawan dapat terhubung langsung dengan jaringan kantor secara private. Maka karyawan dapat melakukan pekerjaan yang bisa dilakukan dari depan komputer tanpa harus berada di kantor. Hal ini menjadi solusi virtual office di jaman mobilitas tinggi seperti sekarang ini.
      Securing your network. Saat ini beberapa vendor seperti telkom memberikan solusi VPN juga untuk perusahaan-perusahaan. Namun solusi ini masih kurang aman. Karena untuk terhubung tidak memerlukan authentikasi. Sehingga bila ada pengguna mengetahui settingan VPN perusahaan tersebut maka dia dapat terhubung ke jaringan perusahaan tapi harus login. Contohnya pada telkomsel VPN hanya dengan mengganti nama APN pada settingan network maka dia dapat langsung terhubung dengan jaringan dengan nama APN tersebut. Dengan memasang VPN lagi di jaringan VPN semi publik tersebut maka jaringan akan lebih aman karena sebelum masuk ke jaringan kantor maka user harus membuat tunnel dulu dan login ke VPN server baru bisa terhubung dengan jaringan kantor.
      Mengamankan jaringan wireless. Jaringan wireless merupakan jaringan publik yang bisa diakses oleh siapa saja yang berada dijangkauan wireless tersebut. Walaupun wireless juga memiliki pengaman seperti WEP, WPA, WPA2 namun jaringan wireless masih saja bisa ditembus. Dengan menggunakan VPN maka user yang terhubung ke wireless harus membuat tunnel dulu dengan login ke VPN server baru bisa menggunakan resource jaringan seperti akses internet dan sebagainya.
 
 

Senin, 07 Mei 2012

TASK 5 KeJarKom



Task 5 tentang routing dinamis bisa di download disini.

Rabu, 02 Mei 2012

TASK 4 KEJARKOM


Tugas Keamanan Jaringan Komputer TASK 4

Download disini!

Jumat, 27 April 2012

TASK 3 KEJARKOM



Tugas Keamanan Jaringan Komputer Task 3

Download Disini

Selasa, 13 Maret 2012

Model Jaringan Hirarki

Ketika kita akan membangun suatu jaringan LAN, kita membutuhkan pemodelan yang memudahkan kita dalam pengembangan dan pengelolaan jaringan yang telah kita buat ini.
Salah satu pemodelan jaringan LAN yang banyak dipakai adalah Pemodelan Jaringan Hirarki.

Bentuk Model Jaringan Hirarki



Dalam pemodelan Hiraki jaringan terdapat 3 Layer atau lapisan yang terpisah pada suatu grup jaringan yang dibagi menurut fungsinya. Lapisan- lapisan tersebut adalah :

1. Access Layer
Antarmuka atau Interface dari layer ini menyediakan hak access kesemua perangkat yang mengakses jaringan. Lapisan ini merupakan lapisan yang secara langsung berkomunikasi atau terhubung dengan perangkat akhir (End Device) seperti Laptop, PC, Smart phone, telepon, printer dan sebagainya.


Layer ini menghubungkan router, switch, bridge, hubs, dan jalur akses nirkabel. Tujuan utama dari layer access adalah untuk menyediakan sarana untuk menghubungkan perangkat ke jaringan dan mengendalikan perangkat yang diijinkan untuk berkomunikasi pada jaringan.
Pada Layer ini terdapat fungsi VLAN yaitu fungsi yang dapat membagi-bagi jaringan secara virtual.
VLAN memungkinkan untuk mengelompokkan lalu lintas pada switch ke subnetworks yang terpisah.

2. Distribution Layer
Layer ini berfungsi sebagai layer penghubung antara Access Layer dan Core Layer dimana data dan lalu lintas jaringan akan diatur sebelum dikirimkann ke Core Layer dan dikirimkan ke tujuan akhir. Layer distribusi mengontrol arus lalu lintas jaringan dengan pengawasan dan perencanaan broadcast domain yang dilakukan oleh fungsi routing antara virtual LANs (VLANs) yang ditetapkan pada access layer.

Beberapa device atau perangkat yang terdapat di Distribution Layer :

Beberapa Fungsi yang dapat ditanamkan pada Distribution Layer yaitu seperti Filtering, Firewall, Quuee, Captive Portal. Dari beberapa fungsi inilah hak akses dari Access Layer dibatasi dan diawasi lalu lintasnya.

3. Core Layer
Layer atau lapisan inti dari model hirarki jaringan, dan merupakan Interface yang digunakan untuk menghubungkan Grup jaringan ke internet.
Beberapa device atau perangkat yang terdapat di Core Layer :

Core Layer adalah Backbone berkecepatan tinggi dari Jaringan Internet. Ini dibutuhkan karena Core Layer harus mampu menampung dan melayani lalu lintas data yang dikirimkan dari dan atau menuju semua lapisan Jaringan yang ada dibawahnya dengan kecepatan yang tinggi.

Kamis, 08 Maret 2012

Perhitungan IP Address menggunakan VLSM

Tahapan perhitungan menggunakan VLSM IP Address yang ada dihit ung menggunakan CIDR selanjutnya baru dipecah kembali menggunakan VLSM.

Sebagai contoh : 130.20.0.0/20
  1. Kita hitung jumlah subnet terlebih dahulu menggunakan CIDR, maka didapat 11111111.11111111.11110000.00000000 = /20
    Jumlah angka binary 1 pada 2 oktat terakhir subnet adalah 4 maka
    Jumlah subnet = (2x) = 24 = 16
    Maka blok tiap subnet-nya adalah :
    Blok subnet ke 1 = 130.20.0.0/20
    Blok subnet ke 2 = 130.20.16.0/20
    Blok subnet ke 3 = 130.20.32.0/20
    Dst … sampai dengan Blok subnet ke 16 = 130.20.240.0/20
  2. Selanjutnya kita ambil nilai blok ke 3 dari hasil CIDR yaitu 130.20.32.0, kemudian kita pecah menjadi 16 blok subnet, dimana nilai 16 diambil dari hasil perhitungan subnet pertama yaitu
    /20 = (2x) = 24 = 16.
  3. Selanjutnya nilai subnet di ubah tergantung kebutuhan untuk pembahasan ini kita gunakan /24, maka didapat 130.20.32.0/24 kemudian diperbanyak menjadi 16 blok lagi sehingga didapat 16 blok baru yaitu :
    Blok subnet VLSM 1-1=130.20.32.0/24
    Blok subnet VLSM 1-2=130.20.33.0/24
    Blok subnet VLSM 1-3=130.20.34.0/24
    Blok subnet VLSM 1-4=130.20.35.0/24
    Dst … sampai dengan Blok subnet VLSM 1-16=130.20.47/24
  4. Selanjutnya kita ambil kembali nilai ke 1 dari blok subnet VLSM 1-1 yaitu 130.20.32.0 kemudian kita pecah menjadi 16 : 2 = 8 blok subnet lagi, namun oktat ke 4 pada Network ID yang kita ubah juga menjadi 8 blok kelipatan dari 32 sehingga didapat :
    B. subnet VLSM 2-1=130.20.32.0/27
    B. subnet VLSM 2-2=130.20.32.32/27
    B. subnet VLSM 2-3=130.20.33.64/27
    B. subnet VLSM 2-4=130.20.34.96/27
    B. subnet VLSM 2-5=130.20.35.128/27
    B. subnet VLSM 2-6=130.20.36.160/27
    B. subnet VLSM 2-1=130.20.37.192/27
    B. subnet VLSM 2-1=130.20.38.224/27.

VLSM (Variable Length Subnet Mask)

Pengertian

VLSM atau Variable Length Subnet Mask adalah sebuah cara pengelolaan pengalamatan IP yang lebih terstruktur dibandingkan sekedar menggunakan FLSM atau Fixed Length Subnet Mask. Dari kata Variable Length diartikan bahwa panjang prefix yang dihasilkan dari perhitungan pengelolaan alamat jenis ini akan bervariasi dibandingkan FLSM yang sifatnya tetap.

Perhitungan IP Address menggunakan metode VLSM adalah metode yang berbeda dengan memberikan suatu Network Address lebih dari satu subnet mask, jika menggunakan CIDR dimana suatu Network ID hanya memiliki satu subnet mask saja, perbedaan yang mendasar disini juga adalah terletak pada pembagian blok, pembagian blok VLSM bebas dan hanya dilakukan oleh si pemilik Network Address yang telah diberikan kepadanya atau dengan kata lain sebagai IP address local dan IP Address ini tidak dikenal dalam jaringan Internet, namun tetap dapat melakukan koneksi kedalam jaringan Internet, hal ini terjadi dikarenakan jaringan Internet hanya mengenal IPAddress berkelas.

Manfaat dari VLSM adalah:

1. Efisien menggunakan alamat IP: alamat IP yang dialokasikan sesuai dengan kebutuhan ruang host setiap subnet. alamat IP tidak sia-sia, misalnya, jaringan kelas C 192.168.10.0 dan topeng 255.255.255.224 (/ 27) memungkinkan untuk memiliki delapan subnet, masing-masing dengan 32 alamat IP (30 dari yang dapat ditugaskan untuk perangkat). Bagaimana jika kita punya WAN beberapa link dalam jaringan kami (WAN link hanya perlu satu alamat IP pada masing-masing pihak, maka total dua alamat IP untuk setiap WAN link diperlukan).
Tanpa VLSM yang tidak mungkin. Dengan VLSM kita dapat subnet salah satu subnet, 192.168.10.32, menjadi subnet yang lebih kecil dengan topeng 255.255.255.252 (/ 30).Dengan cara ini kita berakhir dengan delapan subnet dengan hanya dua host tersedia setiap bahwa kita bisa digunakan pada link WAN.
Prefix / 30 subnet yang bisa dibuat adalah: 192.168.10.32/30, 192.168.10.36/30, 192.168.10.40/30, 192.168.10.44/30, 192.168.10.48/30, 192.168.10.52/30, 192.168.10.56/30 192,168. 10.60/30.

2. Dukungan untuk summarization rute yang lebih baik karena VLSM mendukung pengalamatan desain hirarkis sehingga secara efektif dapat mendukung agregasi rute, juga disebut summarization rute.

3. VLSM dapat mengurangi jumlah rute di routing table oleh berbagai jaringansubnets dalam satu ringkasan alamat. Misalnya subnets 192.168.10.0/24, 192.168.11.0/24 dan 192.168.12.0/24 semua akan dapat diringkas menjadi 192.168.8.0/21.

Penggunaan VLSM terkait dengan dukungan protokol routing di jaringan. Tidak semua Protokol Routing mendukung VLSM. Sebagai contoh RIPv1 dan IGRP sama sekali tidak mendukung VLSM. Jadi apabila ingin mengelola alamat IP menggunakan tehnik ini sudah seharusnya menggunakan protokol routing yang punya kemampuan mendukung skala jaringan yang luas. Contoh protokol routing tersebut adalah RIPv2, EIGRP, OSPF dan IS-IS.

Meskipun sifatnya sangat fleksibel dan diminati oleh administrator jaringan dalam penerapannya, penggunaan VLSM ini harus teliti. Penerapannya VLSM ini akan menghasilkan struktur alamat yang akurat.

Ketelitian ini diawali dengan sebuah perencanaan yang matang atas jaringan yang akan dibentuk. Secara bisnis juga harus dilihat tentang rencana jangka panjang organisasi. Fenomena bergabungnya organisasi menjadi sebuah organisasi besar, menuntut perencaan awal jaringan tersebut harus benar-benar telah dipersiapkan. Sebagai contoh adalah bergabungnya Sony dan Ericsson, atau Nokia dan Siemens yang membentuk divisi Nokia Siemens Network, ataupun beberapa perusahaan besar seperti Cisco System yang mengakuisisi perusahaan lainnya. Hal ini dibutuhkan perencanaan yang matang termasuk juga perencanaan pengalamatan IP yang menggunakan tehnik VLSM.

Tabel Perbandingan CIDR IPv4 dengan IPv6


IPv4 (32bits)       | IPv6 (128bits)    
--------------------|------------------------
/32 = Single IP     | /128 = Single IP    
/31 = 2             | /127 = 2
/30 = 4             | /126 = 4     
/29 = 8             | /125 = 8     
/28 = 16            | /124 = 16     
/27 = 32            | /123 = 32     
/26 = 64            | /122 = 64     
/25 = 128           | /121 = 128     
/24 = 256           | /120 = 256     
/23 = 512           | /119 = 512     
/22 = 1,024         | /118 = 1,024     
/21 = 2,048         | /117 = 2,048     
/20 = 4,096         | /116 = 4,096     
/19 = 8,192         | /115 = 8,192     
/18 = 16,384        | /114 = 16,384     
/17 = 32,768        | /113 = 32,768     
/16 = 65,536        | /112 = 65,536     
/15 = 131,072       | /111 = 131,072     
/14 = 262,144       | /110 = 262,144     
/13 = 524,288       | /109 = 524,288     
/12 = 1,048,576     | /108 = 1,048,576     
/11 = 2,097,152     | /107 = 2,097,152     
/10 = 4,194,304     | /106 = 4,194,304     
/9 = 8,388,608      | /105 = 8,388,608     
/8 = 16,777,216     | /104 = 16,777,216     
/7 = 33,554,432     | /103 = 33,554,432     
/6 = 67,108,864     | /102 = 67,108,864     
/5 = 134,217,728    | /101 = 134,217,728     
/4 = 268.435,456    | /100 = 268.435,456     
/3 = 536,870,912    | /99 = 536,870,912     
/2 = 1,073,741,824  | /98 = 1,073,741,824     
/1 = 2,147,483,648  | /97 = 2,147,483,648     
/0 = 4,294,967,296  | /96 = 4,294,967,296     
N/A                 | /95 = 8,589,934,592     
N/A                 | /94 = 17,179,869,184     
N/A                 | /93 = 34,359,738,368     
N/A                 | /92 = 68,719,476,736     
N/A                 | /91 = 137,438,953,472     
N/A                 | /90 = 274,877,906,944     
N/A                 | /89 = 549,755,813,888     
N/A                 | /88 = 1,099,511,627,776     
N/A                 | /87 = 2,199,023,255,552     
N/A                 | /86 = 4,398,046,511,104     
N/A                 | /85 = 8,796,093,022,208     
N/A                 | /84 = 17,592,186,044,416     
N/A                 | /83 = 35,184,372,088,832     
N/A                 | /82 = 70,368,744,177,664     
N/A                 | /81 = 140,737,488,355,328     
N/A                 | /80 = 281,474,976,710,656     
N/A                 | /79 = 562,949,953,421,312     
N/A                 | /78 = 1,125,899,906,842,624     
N/A                 | /77 = 2,251,799,813,685,248     
N/A                 | /76 = 4,503,599,627,370,496     
N/A                 | /75 = 9,007,199,254,740,992     
N/A                 | /74 = 18,014,398,509,481,984     
N/A                 | /73 = 36,028,797,018,963,968     
N/A                 | /72 = 72,057,594,037,927,936     
N/A                 | /71 = 144,115,188,075,855,872     
N/A                 | /70 = 288,230,376,151,711,744     
N/A                 | /69 = 576,460,752,303,423,488     
N/A                 | /68 = 1,152,921,504,606,846,976     
N/A                 | /67 = 2,305,843,009,213,693,952     
N/A                 | /66 = 4,611,686,018,427,387,904     
N/A                 | /65 = 9,223,372,036,854,775,808     
N/A                 | /64 = 18,446,744,073,709,551,616     
N/A                 | /63 = 36,893,488,147,419,103,232     
N/A                 | /62 = 73,786,976,294,838,206,464     
N/A                 | /61 = 147,573,952,589,676,412,928     
N/A                 | /60 = 295,147,905,179,352,825,856     
N/A                 | /59 = 590,295,810,358,705,651,712     
N/A                 | /58 = 1,180,591,620,717,411,303,424     
N/A                 | /57 = 2,361,183,241,434,822,606,848     
N/A                 | /56 = 4,722,366,482,869,645,213,696     
N/A                 | /55 = 9,444,732,965,739,290,427,392     
N/A                 | /54 = 18,889,465,931,478,580,854,784     
N/A                 | /53 = 37,778,931,862,957,161,709,568     
N/A                 | /52 = 75,557,863,725,914,323,419,136     
N/A                 | /51 = 151,115,727,451,828,646,838,272     
N/A                 | /50 = 302,231,454,903,657,293,676,544     
N/A                 | /49 = 604,462,909,807,314,587,353,088     
N/A                 | /48 = 1,208,925,819,614,629,174,706,176    
N/A                 | /47 = 2,417,851,639,229,258,349,412,35    
N/A                 | /46 = 4,835,703,278,458,516,698,824,70
N/A                 | /45 = 9,671,406,556,917,033,397,649,40
N/A                 | /44 = 19,342,813,113,834,066,795,298,81
N/A                 | /43 = 38,685,626,227,668,133,590,597,632
N/A                 | /42 = 77,371,252,455,336,267,181,195,264
N/A                 | /41 = 154,742,504,910,672,534,362,390,528
N/A                 | /40 = 309,485,009,821,345,068,724,781,056
N/A                 | /39 = 618,970,019,642,690,137,449,562,112    
N/A                 | /38 = 1,237,940,039,285,380,274,899,124,224    
N/A                 | /37 = 2,475,880,078,570,760,549,798,248,448
N/A                 | /36 = 4,951,760,157,141,521,099,596,496,896
N/A                 | /35 = 9,903,520,314,283,042,199,192,993,792
N/A                 | /34 = 19,807,040,628,566,084,398,385,987,584   
N/A                 | /33 = 39,614,081,257,132,168,796,771,975,168    
N/A                 | /32 = 79,228,162,514,264,337,593,543,950,336    
N/A                 | /31 = 158,456,325,028,528,675,187,087,900,672    
N/A                 | /30 = 316,912,650,057,057,350,374,175,801,344    
N/A                 | /29 = 633,825,300,114,114,700,748,351,602,688    
N/A                 | /28 = 1,267,650,600,228,229,401,496,703,205,376
N/A                 | /27 = 2,535,301,200,456,458,802,993,406,410,752
N/A                 | /26 = 5,070,602,400,912,917,605,986,812,821,504
N/A                 | /25 = 10,141,204,801,825,835,211,973,625,643,008
N/A                 | /24 = 20,282,409,603,651,670,423,947,251,286,016
N/A                 | /23 = 40,564,819,207,303,340,847,894,502,572,032
N/A                 | /22 = 81,129,638,414,606,681,695,789,005,144,064
N/A                 | /21 = 162,280,286,840,214,464,602,688,010,288,128
N/A                 | /20 = 324,518,553,658,426,726,783,156,020,576,256
N/A                 | /19 = 649,037,107,316,853,453,566,312,041,152,512
N/A                 | /18 = 1,298,074,214,633,706,907,132,624,082,305,024
N/A                 | /17 = 2,596,148,429,267,413,814,265,248,164,610,048
N/A                 | /16 = 5,192,296,858,534,827,628,530,496,329,220,096

Kesimpulan: Jumlah total IP untuk IPv4 adalah 232 sedangkan IPv6 adalah 2128

CIDR (Classless Inter-Domain Routing)

Jaringan komputer adalah kumpulan komputer, printer dan peralatan lainnya yang saling terhubung untuk dapat saling bertukar Informasi dan data yang dihubungkan melalui perangkat tertentu dengan aturan yang telah ditentukan dan disepakati.

Salah satu komponen yang sangat penting dalam jaringan komputer yaitu IP address atau Internet Protocol Address, karenan IP address adalah alamat dari  suatu komputer dalam suatu jaringan. Layaknya alamat rumah bagi kita begitu pula fungsi IP addres dalam suatu jaringan komputer. IP address memberikan alamat kemana suatu data atau informasi yang dikirim dari satu komputer dalam suatu jaringan bisa sampai pada komputer lain yang dituju.

Dengan menentukan IP address kita melakukan pemberian identitaas yang universal bagi setiap device dalam komputer karena setiap komputer yang terhubung dalam suatu jaringan baik itu terhubung ke internet ataupun hanya jaringan lokal saja harus memiliki setidaknya satu IP address karena sebenarnya IP address ini merujuk ke komponen atau device yang ada dalam komputer  yang menyambungkan komputer dengan jaringan.

Format IP address
Alamat IP (Internet Protocol Address atau sering disingkat IP) adalah deretan angka biner antar 32-bit sampai 128-bit yang dipakai sebagai alamat identifikasi untuk tiap komputer host dalam jaringan Internet. Panjang dari angka ini adalah32-bit (untuk IPv4 atau IP versi 4), dan 128-bit (untuk IPv6 atau IP versi 6) yang menunjukkan alamat dari komputer tersebut pada jaringan Internet berbasisTCP/IP. Sistem pengalamatan IP ini terbagi menjadi dua, yakni: IP versi 4 (IPv4) dan IP versi 6 (IPv6).

CIDR (Classless Inter-Domain Routing)
CIDR adalah sebuah cara alternatif untuk mengklasifikasikan alamat-alamat IP berbeda dengan sistem klasifikasi ke dalam kelas A, kelas B, kelas C, kelas D, dan kelas E. Disebut juga sebagai supernetting.

CIDR merupakan mekanisme routing yang lebih efisien dibandingkan dengan cara yang asli, yakni dengan membagi alamat IP jaringan ke dalam kelas-kelas A, B, dan C. Masalah yang terjadi pada sistem yang lama adalah bahwa sistem tersebut meninggalkan banyak sekali alamat IP yang tidak digunakan. Sebagai contoh, alamat IP kelas A secara teoritis mendukung hingga 16 juta host komputer yang dapat terhubung, sebuah jumlah yang sangat besar. Dalam kenyataannya, para pengguna alamat IP kelas A ini jarang yang memiliki jumlah host sebanyak itu, sehingga menyisakan banyak sekali ruangan kosong di dalam ruang alamat IP yang telah disediakan. CIDR dikembangkan sebagai sebuah cara untuk menggunakan alamat-alamat IP yang tidak terpakai tersebut untuk digunakan di mana saja. Dengan cara yang sama, kelas C yang secara teoritis hanya mendukung 254 alamat tiap jaringan, dapat menggunakan hingga 32766 alamat IP, yang seharusnya hanya tersedia untuk alamat IP kelas B.

Penulisan IP address umumnya adalah dengan 192.168.1.2. Namun adakalanya ditulis dengan 192.168.1.2/24, Artinya bahwa IP address 192.168.1.2 dengan subnet mask 255.255.255.0. /24 diambil dari penghitungan bahwa 24 bit subnet mask diselubung dengan binari 1. Atau dengan kata lain, subnet masknya adalah: 11111111.11111111.11111111.00000000 (255.255.255.0). Konsep ini yang disebut dengan CIDR (Classless Inter-Domain Routing) yang diperkenalkan pertama kali tahun 1992 oleh IEFT.

Subnet Mask yang bisa digunakan untuk melakukan subnetting
Subnet Mask Nilai CIDR
255.128.0.0 /9
255.192.0.0 /10
255.224.0.0 /11
255.240.0.0 /12
255.248.0.0 /13
255.252.0.0 /14
255.254.0.0 /15
255.255.0.0 /16
255.255.128.0 /17
255.255.192.0 /18
255.255.224.0 /19
Subnet Mask Nilai CIDR
255.255.240.0 /20
255.255.248.0 /21
255.255.252.0 /22
255.255.254.0 /23
255.255.255.0 /24
255.255.255.128 /25
255.255.255.192 /26
255.255.255.224 /27
255.255.255.240 /28
255.255.255.248 /29
255.255.255.252 /30

SUBNETTING PADA IP ADDRESS PADA CLASS C
Pada perhitungan Subnetting akan berpusat di 4 hal yaitu :jumlah subnet
  1. jumlah host per subnet
  2. blok subnet
  3. alamat host dan broadcast yang valid.
Jadi untuk dapat melakukan Subnetting yaitu dengan urutan sebagai berikut,
Contoh : Subnetting pada IP Address : 192.168.1.0/26
Analisa :
192.168.1.0 berarti kelas C dengan Subnet Mask /26 berarti 255.255.255.192 atau 11111111.11111111.11111111.11000000.
  1. Hitung Jumlah Subnet = 2x, dimana x adalah banyaknya binari 1 pada 3 oktet terakhir untuk kelas A, 2 oktet terakhir untuk kelas B, dan oktet terakhir untuk kelas C. Jadi Jumlah Subnet adalah 22= 4 subnet.
  2. Hitung Jumlah Host per Subnet = 2y – 2, dimana y adalah adalah kebalikan dari x yaitu banyaknya binari 0 pada 3 oktet terakhir untuk kelas A, 2 oktet terakhir untuk kelas B, dan oktet terakhir untuk kelas C. Jadi jumlah host per subnet adalah 26 – 2 = 62 host.
  3. Hitung Blok Subnet = 256 – 192 (nilai oktet terakhir subnet mask) = 64. Subnet berikutnya adalah 64 + 64 = 128, dan 128+64=192. Jadi subnet lengkapnya adalah 0, 64, 128, 192.
  4. Untuk alamat host dan broadcast yang valid kita dapat membuat tabelnya. Sebagai catatan, host pertama adalah 1 angka setelah subnet, dan broadcast adalah 1 angka sebelum subnet berikutnya.
Subnet
192.168.1.0
192.168.1.64
192.168.1.128
192.168.1.192
Host Pertama
192.168.1.1
192.168.1.65
192.168.1.129
192.168.1.193
Host Terakhir
192.168.1.62
192.168.1.126
192.168.1.190
192.168.1.254
Broadcast
192.168.1.63
192.168.1.127
192.168.1.191
192.168.1.255








Hasil dari Subnetting untuk IP Address 192.168.1.0/26 adalah seperti pada tabel berikut
Subnet Mask Nilai CIDR
255.255.255.128 /25
255.255.255.192 /26
255.255.255.224 /27
255.255.255.240 /28
255.255.255.248 /29
255.255.255.252 /30

SUBNETTING PADA IP ADDRESS PADA CLASS B Subnet mask yang bisa digunakan untuk subnetting class B adalah seperti tabel dibawah. Sengaja dipisahkan menjadi dua blok yaitu, blok sebelah kiri dan kanan karena masing-masing berbeda teknik terutama untuk oktet yang “dihitung” berdasarkan blok subnetnya. CIDR /17 sampai /24 caranya sama persis dengan subnetting Class C, hanya saja blok subnetnya kita masukkan langsung ke oktet ketiga, bukan seperti Class C yang “dihitung” di oktet keempat. Sedangkan CIDR /25 sampai /30 (kelipatan) blok subnet kita “dihitung” di oktet keempat, tapi setelah selesai oktet ketiga berjalan maju (coeunter) dari 0, 1, 2, 3, dst.


Subnet Mask
Nilai CIDR
255.255.128.0 /17
255.255.192.0 /18
255.255.224.0 /19
255.255.240.0 /20
255.255.248.0 /21
255.255.252.0 /22
255.255.254.0 /23
255.255.255.0 /24
Subnet Mask Nilai CIDR
255.255.255.128 /25
255.255.255.192 /26
255.255.255.224 /27
255.255.255.240 /28
255.255.255.248 /29
255.255.255.252 /30

Teknik subnetting untuk Class B. Kita mulai dari yang menggunakan subnetmask dengan CIDR /17 sampai /24.
Contoh : Pada IP Address 172.16.0.0/18.
Analisa :
172.16.0.0 berarti kelas B, dengan Subnet Mask /18 berarti 255.255.192.0 atau 11111111.11111111.11000000.00000000.
Penghitungan:

Jumlah Subnet = 2x, dimana x adalah banyaknya binari 1 pada 2 oktet terakhir. Jadi Jumlah Subnet adalah 22 = 4 subnet.
Jumlah Host per Subnet = 2y – 2, dimana y adalah kebalikan dari x yaitu banyaknya binari 0 pada 2 oktet terakhir. Jadi jumlah host per subnet adalah 214 – 2 = 16.382 host
Blok Subnet = 256 – 192 = 64. Subnet berikutnya adalah 64 + 64 = 128, dan 128+64=192. Jadi subnet lengkapnya adalah 0, 64, 128, 192.

Alamat host dan broadcast yang valid.
Subnet 172.16.0.0 172.16.64.0 172.16.128.0 172.16.192.0
Host Pertama 172.16.0.1 172.16.64.1 172.16.128.1 172.16.192.1
Host Terakhir 172.16.63.254 172.16.127.254 172.16.191.254 172.16.255.254
Broadcast 172.16.63.255 172.16.127.255 172.16.191.255 172.16..255.255

Selanjutnya untuk Class B khususnya untuk yang menggunakan subnetmask CIDR /25 sampai /30.
Contoh :
IP address 172.16.0.0/25.
Analisa : 172.16.0.0 berarti kelas B, dengan Subnet Mask /25 berarti 255.255.255.128 atau 11111111.11111111.11111111.10000000.
Penghitungan :
Jumlah Subnet = 29 = 512 subnet
Jumlah Host per Subnet = 27 – 2 = 126 host
Blok Subnet = 256 – 128 = 128. Jadi lengkapnya adalah (0, 128).

Alamat host dan broadcast yang valid.
Subnet 172.16.0.0 172.16.0.128 172.16.1.0 172.16.255.128
Host Pertama 172.16.0.1 172.16.0.129 172.16.1.1 172.16.255.129
Host Terakhir 172.16.0.126 172.16.0.254 172.16.1.126 172.16.255.254
Broadcast 172.16.0.127 172.16.0.255 172.16.1.127 172.16.255.255

SUBNETTING PADA IP ADDRESS PADA CLASS A
Konsepnya sama saja. Perbedaannya adalah di OKTET mana kita akan menghitung blok subnet. Kalau Class C di oktet ke 4 (terakhir), kelas B di Oktet 3 dan 4 (2 oktet terakhir), kalau Class A di oktet 2, 3 dan 4 (3 oktet terakhir). Kemudian subnet mask yang bisa digunakan untuk subnetting class A adalah semua subnet mask dari CIDR /8 sampai /30.

Contoh : IP address 10.0.0.0/16.
Analisa : 10.0.0.0 berarti kelas A, dengan Subnet Mask /16 berarti 11111111.11111111.00000000.00000000 (255.255.0.0).
Penghitungan :
Jumlah Subnet = 28 = 256 subnet
Jumlah Host per Subnet = 216 – 2 = 65534 host
Blok Subnet = 256 – 255 = 1. Jadi subnet lengkapnya: 0,1,2,3,4,dst.

Alamat host dan broadcast yang valid.

Subnet
10.0.0.0 10.1.0.0 10.254.0.0 10.255.0.0
Host Pertama 10.0.0.1 10.1.0.1 10.254.0.1 10.255.0.1
Host Terakhir 10.0.255.254 10.1.255.254 10.254.255.254 10.255.255.254
Broadcast 10.0.255.255 10.1.255.255 10.254.255.255 10.255.255.255

Catatan : Semua penghitungan subnet diatas berasumsikan bahwa IP Subnet-Zeroes (dan IP Subnet-Ones) dihitung secara default. Buku versi terbaru Todd Lamle dan juga CCNA setelah 2005 sudah mengakomodasi masalah IP Subnet-Zeroes (dan IP Subnet-Ones) ini. CCNA pre-2005 tidak memasukkannya secara default (meskipun di kenyataan kita bisa mengaktifkannya dengan command ip subnet-zeroes), sehingga mungkin dalam beberapa buku tentang CCNA serta soal-soal test CNAP, anda masih menemukan rumus penghitungan Jumlah Subnet = 2x – 2.