Selasa, 13 Maret 2012

Model Jaringan Hirarki

Ketika kita akan membangun suatu jaringan LAN, kita membutuhkan pemodelan yang memudahkan kita dalam pengembangan dan pengelolaan jaringan yang telah kita buat ini.
Salah satu pemodelan jaringan LAN yang banyak dipakai adalah Pemodelan Jaringan Hirarki.

Bentuk Model Jaringan Hirarki



Dalam pemodelan Hiraki jaringan terdapat 3 Layer atau lapisan yang terpisah pada suatu grup jaringan yang dibagi menurut fungsinya. Lapisan- lapisan tersebut adalah :

1. Access Layer
Antarmuka atau Interface dari layer ini menyediakan hak access kesemua perangkat yang mengakses jaringan. Lapisan ini merupakan lapisan yang secara langsung berkomunikasi atau terhubung dengan perangkat akhir (End Device) seperti Laptop, PC, Smart phone, telepon, printer dan sebagainya.


Layer ini menghubungkan router, switch, bridge, hubs, dan jalur akses nirkabel. Tujuan utama dari layer access adalah untuk menyediakan sarana untuk menghubungkan perangkat ke jaringan dan mengendalikan perangkat yang diijinkan untuk berkomunikasi pada jaringan.
Pada Layer ini terdapat fungsi VLAN yaitu fungsi yang dapat membagi-bagi jaringan secara virtual.
VLAN memungkinkan untuk mengelompokkan lalu lintas pada switch ke subnetworks yang terpisah.

2. Distribution Layer
Layer ini berfungsi sebagai layer penghubung antara Access Layer dan Core Layer dimana data dan lalu lintas jaringan akan diatur sebelum dikirimkann ke Core Layer dan dikirimkan ke tujuan akhir. Layer distribusi mengontrol arus lalu lintas jaringan dengan pengawasan dan perencanaan broadcast domain yang dilakukan oleh fungsi routing antara virtual LANs (VLANs) yang ditetapkan pada access layer.

Beberapa device atau perangkat yang terdapat di Distribution Layer :

Beberapa Fungsi yang dapat ditanamkan pada Distribution Layer yaitu seperti Filtering, Firewall, Quuee, Captive Portal. Dari beberapa fungsi inilah hak akses dari Access Layer dibatasi dan diawasi lalu lintasnya.

3. Core Layer
Layer atau lapisan inti dari model hirarki jaringan, dan merupakan Interface yang digunakan untuk menghubungkan Grup jaringan ke internet.
Beberapa device atau perangkat yang terdapat di Core Layer :

Core Layer adalah Backbone berkecepatan tinggi dari Jaringan Internet. Ini dibutuhkan karena Core Layer harus mampu menampung dan melayani lalu lintas data yang dikirimkan dari dan atau menuju semua lapisan Jaringan yang ada dibawahnya dengan kecepatan yang tinggi.

Kamis, 08 Maret 2012

Perhitungan IP Address menggunakan VLSM

Tahapan perhitungan menggunakan VLSM IP Address yang ada dihit ung menggunakan CIDR selanjutnya baru dipecah kembali menggunakan VLSM.

Sebagai contoh : 130.20.0.0/20
  1. Kita hitung jumlah subnet terlebih dahulu menggunakan CIDR, maka didapat 11111111.11111111.11110000.00000000 = /20
    Jumlah angka binary 1 pada 2 oktat terakhir subnet adalah 4 maka
    Jumlah subnet = (2x) = 24 = 16
    Maka blok tiap subnet-nya adalah :
    Blok subnet ke 1 = 130.20.0.0/20
    Blok subnet ke 2 = 130.20.16.0/20
    Blok subnet ke 3 = 130.20.32.0/20
    Dst … sampai dengan Blok subnet ke 16 = 130.20.240.0/20
  2. Selanjutnya kita ambil nilai blok ke 3 dari hasil CIDR yaitu 130.20.32.0, kemudian kita pecah menjadi 16 blok subnet, dimana nilai 16 diambil dari hasil perhitungan subnet pertama yaitu
    /20 = (2x) = 24 = 16.
  3. Selanjutnya nilai subnet di ubah tergantung kebutuhan untuk pembahasan ini kita gunakan /24, maka didapat 130.20.32.0/24 kemudian diperbanyak menjadi 16 blok lagi sehingga didapat 16 blok baru yaitu :
    Blok subnet VLSM 1-1=130.20.32.0/24
    Blok subnet VLSM 1-2=130.20.33.0/24
    Blok subnet VLSM 1-3=130.20.34.0/24
    Blok subnet VLSM 1-4=130.20.35.0/24
    Dst … sampai dengan Blok subnet VLSM 1-16=130.20.47/24
  4. Selanjutnya kita ambil kembali nilai ke 1 dari blok subnet VLSM 1-1 yaitu 130.20.32.0 kemudian kita pecah menjadi 16 : 2 = 8 blok subnet lagi, namun oktat ke 4 pada Network ID yang kita ubah juga menjadi 8 blok kelipatan dari 32 sehingga didapat :
    B. subnet VLSM 2-1=130.20.32.0/27
    B. subnet VLSM 2-2=130.20.32.32/27
    B. subnet VLSM 2-3=130.20.33.64/27
    B. subnet VLSM 2-4=130.20.34.96/27
    B. subnet VLSM 2-5=130.20.35.128/27
    B. subnet VLSM 2-6=130.20.36.160/27
    B. subnet VLSM 2-1=130.20.37.192/27
    B. subnet VLSM 2-1=130.20.38.224/27.

VLSM (Variable Length Subnet Mask)

Pengertian

VLSM atau Variable Length Subnet Mask adalah sebuah cara pengelolaan pengalamatan IP yang lebih terstruktur dibandingkan sekedar menggunakan FLSM atau Fixed Length Subnet Mask. Dari kata Variable Length diartikan bahwa panjang prefix yang dihasilkan dari perhitungan pengelolaan alamat jenis ini akan bervariasi dibandingkan FLSM yang sifatnya tetap.

Perhitungan IP Address menggunakan metode VLSM adalah metode yang berbeda dengan memberikan suatu Network Address lebih dari satu subnet mask, jika menggunakan CIDR dimana suatu Network ID hanya memiliki satu subnet mask saja, perbedaan yang mendasar disini juga adalah terletak pada pembagian blok, pembagian blok VLSM bebas dan hanya dilakukan oleh si pemilik Network Address yang telah diberikan kepadanya atau dengan kata lain sebagai IP address local dan IP Address ini tidak dikenal dalam jaringan Internet, namun tetap dapat melakukan koneksi kedalam jaringan Internet, hal ini terjadi dikarenakan jaringan Internet hanya mengenal IPAddress berkelas.

Manfaat dari VLSM adalah:

1. Efisien menggunakan alamat IP: alamat IP yang dialokasikan sesuai dengan kebutuhan ruang host setiap subnet. alamat IP tidak sia-sia, misalnya, jaringan kelas C 192.168.10.0 dan topeng 255.255.255.224 (/ 27) memungkinkan untuk memiliki delapan subnet, masing-masing dengan 32 alamat IP (30 dari yang dapat ditugaskan untuk perangkat). Bagaimana jika kita punya WAN beberapa link dalam jaringan kami (WAN link hanya perlu satu alamat IP pada masing-masing pihak, maka total dua alamat IP untuk setiap WAN link diperlukan).
Tanpa VLSM yang tidak mungkin. Dengan VLSM kita dapat subnet salah satu subnet, 192.168.10.32, menjadi subnet yang lebih kecil dengan topeng 255.255.255.252 (/ 30).Dengan cara ini kita berakhir dengan delapan subnet dengan hanya dua host tersedia setiap bahwa kita bisa digunakan pada link WAN.
Prefix / 30 subnet yang bisa dibuat adalah: 192.168.10.32/30, 192.168.10.36/30, 192.168.10.40/30, 192.168.10.44/30, 192.168.10.48/30, 192.168.10.52/30, 192.168.10.56/30 192,168. 10.60/30.

2. Dukungan untuk summarization rute yang lebih baik karena VLSM mendukung pengalamatan desain hirarkis sehingga secara efektif dapat mendukung agregasi rute, juga disebut summarization rute.

3. VLSM dapat mengurangi jumlah rute di routing table oleh berbagai jaringansubnets dalam satu ringkasan alamat. Misalnya subnets 192.168.10.0/24, 192.168.11.0/24 dan 192.168.12.0/24 semua akan dapat diringkas menjadi 192.168.8.0/21.

Penggunaan VLSM terkait dengan dukungan protokol routing di jaringan. Tidak semua Protokol Routing mendukung VLSM. Sebagai contoh RIPv1 dan IGRP sama sekali tidak mendukung VLSM. Jadi apabila ingin mengelola alamat IP menggunakan tehnik ini sudah seharusnya menggunakan protokol routing yang punya kemampuan mendukung skala jaringan yang luas. Contoh protokol routing tersebut adalah RIPv2, EIGRP, OSPF dan IS-IS.

Meskipun sifatnya sangat fleksibel dan diminati oleh administrator jaringan dalam penerapannya, penggunaan VLSM ini harus teliti. Penerapannya VLSM ini akan menghasilkan struktur alamat yang akurat.

Ketelitian ini diawali dengan sebuah perencanaan yang matang atas jaringan yang akan dibentuk. Secara bisnis juga harus dilihat tentang rencana jangka panjang organisasi. Fenomena bergabungnya organisasi menjadi sebuah organisasi besar, menuntut perencaan awal jaringan tersebut harus benar-benar telah dipersiapkan. Sebagai contoh adalah bergabungnya Sony dan Ericsson, atau Nokia dan Siemens yang membentuk divisi Nokia Siemens Network, ataupun beberapa perusahaan besar seperti Cisco System yang mengakuisisi perusahaan lainnya. Hal ini dibutuhkan perencanaan yang matang termasuk juga perencanaan pengalamatan IP yang menggunakan tehnik VLSM.

Tabel Perbandingan CIDR IPv4 dengan IPv6


IPv4 (32bits)       | IPv6 (128bits)    
--------------------|------------------------
/32 = Single IP     | /128 = Single IP    
/31 = 2             | /127 = 2
/30 = 4             | /126 = 4     
/29 = 8             | /125 = 8     
/28 = 16            | /124 = 16     
/27 = 32            | /123 = 32     
/26 = 64            | /122 = 64     
/25 = 128           | /121 = 128     
/24 = 256           | /120 = 256     
/23 = 512           | /119 = 512     
/22 = 1,024         | /118 = 1,024     
/21 = 2,048         | /117 = 2,048     
/20 = 4,096         | /116 = 4,096     
/19 = 8,192         | /115 = 8,192     
/18 = 16,384        | /114 = 16,384     
/17 = 32,768        | /113 = 32,768     
/16 = 65,536        | /112 = 65,536     
/15 = 131,072       | /111 = 131,072     
/14 = 262,144       | /110 = 262,144     
/13 = 524,288       | /109 = 524,288     
/12 = 1,048,576     | /108 = 1,048,576     
/11 = 2,097,152     | /107 = 2,097,152     
/10 = 4,194,304     | /106 = 4,194,304     
/9 = 8,388,608      | /105 = 8,388,608     
/8 = 16,777,216     | /104 = 16,777,216     
/7 = 33,554,432     | /103 = 33,554,432     
/6 = 67,108,864     | /102 = 67,108,864     
/5 = 134,217,728    | /101 = 134,217,728     
/4 = 268.435,456    | /100 = 268.435,456     
/3 = 536,870,912    | /99 = 536,870,912     
/2 = 1,073,741,824  | /98 = 1,073,741,824     
/1 = 2,147,483,648  | /97 = 2,147,483,648     
/0 = 4,294,967,296  | /96 = 4,294,967,296     
N/A                 | /95 = 8,589,934,592     
N/A                 | /94 = 17,179,869,184     
N/A                 | /93 = 34,359,738,368     
N/A                 | /92 = 68,719,476,736     
N/A                 | /91 = 137,438,953,472     
N/A                 | /90 = 274,877,906,944     
N/A                 | /89 = 549,755,813,888     
N/A                 | /88 = 1,099,511,627,776     
N/A                 | /87 = 2,199,023,255,552     
N/A                 | /86 = 4,398,046,511,104     
N/A                 | /85 = 8,796,093,022,208     
N/A                 | /84 = 17,592,186,044,416     
N/A                 | /83 = 35,184,372,088,832     
N/A                 | /82 = 70,368,744,177,664     
N/A                 | /81 = 140,737,488,355,328     
N/A                 | /80 = 281,474,976,710,656     
N/A                 | /79 = 562,949,953,421,312     
N/A                 | /78 = 1,125,899,906,842,624     
N/A                 | /77 = 2,251,799,813,685,248     
N/A                 | /76 = 4,503,599,627,370,496     
N/A                 | /75 = 9,007,199,254,740,992     
N/A                 | /74 = 18,014,398,509,481,984     
N/A                 | /73 = 36,028,797,018,963,968     
N/A                 | /72 = 72,057,594,037,927,936     
N/A                 | /71 = 144,115,188,075,855,872     
N/A                 | /70 = 288,230,376,151,711,744     
N/A                 | /69 = 576,460,752,303,423,488     
N/A                 | /68 = 1,152,921,504,606,846,976     
N/A                 | /67 = 2,305,843,009,213,693,952     
N/A                 | /66 = 4,611,686,018,427,387,904     
N/A                 | /65 = 9,223,372,036,854,775,808     
N/A                 | /64 = 18,446,744,073,709,551,616     
N/A                 | /63 = 36,893,488,147,419,103,232     
N/A                 | /62 = 73,786,976,294,838,206,464     
N/A                 | /61 = 147,573,952,589,676,412,928     
N/A                 | /60 = 295,147,905,179,352,825,856     
N/A                 | /59 = 590,295,810,358,705,651,712     
N/A                 | /58 = 1,180,591,620,717,411,303,424     
N/A                 | /57 = 2,361,183,241,434,822,606,848     
N/A                 | /56 = 4,722,366,482,869,645,213,696     
N/A                 | /55 = 9,444,732,965,739,290,427,392     
N/A                 | /54 = 18,889,465,931,478,580,854,784     
N/A                 | /53 = 37,778,931,862,957,161,709,568     
N/A                 | /52 = 75,557,863,725,914,323,419,136     
N/A                 | /51 = 151,115,727,451,828,646,838,272     
N/A                 | /50 = 302,231,454,903,657,293,676,544     
N/A                 | /49 = 604,462,909,807,314,587,353,088     
N/A                 | /48 = 1,208,925,819,614,629,174,706,176    
N/A                 | /47 = 2,417,851,639,229,258,349,412,35    
N/A                 | /46 = 4,835,703,278,458,516,698,824,70
N/A                 | /45 = 9,671,406,556,917,033,397,649,40
N/A                 | /44 = 19,342,813,113,834,066,795,298,81
N/A                 | /43 = 38,685,626,227,668,133,590,597,632
N/A                 | /42 = 77,371,252,455,336,267,181,195,264
N/A                 | /41 = 154,742,504,910,672,534,362,390,528
N/A                 | /40 = 309,485,009,821,345,068,724,781,056
N/A                 | /39 = 618,970,019,642,690,137,449,562,112    
N/A                 | /38 = 1,237,940,039,285,380,274,899,124,224    
N/A                 | /37 = 2,475,880,078,570,760,549,798,248,448
N/A                 | /36 = 4,951,760,157,141,521,099,596,496,896
N/A                 | /35 = 9,903,520,314,283,042,199,192,993,792
N/A                 | /34 = 19,807,040,628,566,084,398,385,987,584   
N/A                 | /33 = 39,614,081,257,132,168,796,771,975,168    
N/A                 | /32 = 79,228,162,514,264,337,593,543,950,336    
N/A                 | /31 = 158,456,325,028,528,675,187,087,900,672    
N/A                 | /30 = 316,912,650,057,057,350,374,175,801,344    
N/A                 | /29 = 633,825,300,114,114,700,748,351,602,688    
N/A                 | /28 = 1,267,650,600,228,229,401,496,703,205,376
N/A                 | /27 = 2,535,301,200,456,458,802,993,406,410,752
N/A                 | /26 = 5,070,602,400,912,917,605,986,812,821,504
N/A                 | /25 = 10,141,204,801,825,835,211,973,625,643,008
N/A                 | /24 = 20,282,409,603,651,670,423,947,251,286,016
N/A                 | /23 = 40,564,819,207,303,340,847,894,502,572,032
N/A                 | /22 = 81,129,638,414,606,681,695,789,005,144,064
N/A                 | /21 = 162,280,286,840,214,464,602,688,010,288,128
N/A                 | /20 = 324,518,553,658,426,726,783,156,020,576,256
N/A                 | /19 = 649,037,107,316,853,453,566,312,041,152,512
N/A                 | /18 = 1,298,074,214,633,706,907,132,624,082,305,024
N/A                 | /17 = 2,596,148,429,267,413,814,265,248,164,610,048
N/A                 | /16 = 5,192,296,858,534,827,628,530,496,329,220,096

Kesimpulan: Jumlah total IP untuk IPv4 adalah 232 sedangkan IPv6 adalah 2128

CIDR (Classless Inter-Domain Routing)

Jaringan komputer adalah kumpulan komputer, printer dan peralatan lainnya yang saling terhubung untuk dapat saling bertukar Informasi dan data yang dihubungkan melalui perangkat tertentu dengan aturan yang telah ditentukan dan disepakati.

Salah satu komponen yang sangat penting dalam jaringan komputer yaitu IP address atau Internet Protocol Address, karenan IP address adalah alamat dari  suatu komputer dalam suatu jaringan. Layaknya alamat rumah bagi kita begitu pula fungsi IP addres dalam suatu jaringan komputer. IP address memberikan alamat kemana suatu data atau informasi yang dikirim dari satu komputer dalam suatu jaringan bisa sampai pada komputer lain yang dituju.

Dengan menentukan IP address kita melakukan pemberian identitaas yang universal bagi setiap device dalam komputer karena setiap komputer yang terhubung dalam suatu jaringan baik itu terhubung ke internet ataupun hanya jaringan lokal saja harus memiliki setidaknya satu IP address karena sebenarnya IP address ini merujuk ke komponen atau device yang ada dalam komputer  yang menyambungkan komputer dengan jaringan.

Format IP address
Alamat IP (Internet Protocol Address atau sering disingkat IP) adalah deretan angka biner antar 32-bit sampai 128-bit yang dipakai sebagai alamat identifikasi untuk tiap komputer host dalam jaringan Internet. Panjang dari angka ini adalah32-bit (untuk IPv4 atau IP versi 4), dan 128-bit (untuk IPv6 atau IP versi 6) yang menunjukkan alamat dari komputer tersebut pada jaringan Internet berbasisTCP/IP. Sistem pengalamatan IP ini terbagi menjadi dua, yakni: IP versi 4 (IPv4) dan IP versi 6 (IPv6).

CIDR (Classless Inter-Domain Routing)
CIDR adalah sebuah cara alternatif untuk mengklasifikasikan alamat-alamat IP berbeda dengan sistem klasifikasi ke dalam kelas A, kelas B, kelas C, kelas D, dan kelas E. Disebut juga sebagai supernetting.

CIDR merupakan mekanisme routing yang lebih efisien dibandingkan dengan cara yang asli, yakni dengan membagi alamat IP jaringan ke dalam kelas-kelas A, B, dan C. Masalah yang terjadi pada sistem yang lama adalah bahwa sistem tersebut meninggalkan banyak sekali alamat IP yang tidak digunakan. Sebagai contoh, alamat IP kelas A secara teoritis mendukung hingga 16 juta host komputer yang dapat terhubung, sebuah jumlah yang sangat besar. Dalam kenyataannya, para pengguna alamat IP kelas A ini jarang yang memiliki jumlah host sebanyak itu, sehingga menyisakan banyak sekali ruangan kosong di dalam ruang alamat IP yang telah disediakan. CIDR dikembangkan sebagai sebuah cara untuk menggunakan alamat-alamat IP yang tidak terpakai tersebut untuk digunakan di mana saja. Dengan cara yang sama, kelas C yang secara teoritis hanya mendukung 254 alamat tiap jaringan, dapat menggunakan hingga 32766 alamat IP, yang seharusnya hanya tersedia untuk alamat IP kelas B.

Penulisan IP address umumnya adalah dengan 192.168.1.2. Namun adakalanya ditulis dengan 192.168.1.2/24, Artinya bahwa IP address 192.168.1.2 dengan subnet mask 255.255.255.0. /24 diambil dari penghitungan bahwa 24 bit subnet mask diselubung dengan binari 1. Atau dengan kata lain, subnet masknya adalah: 11111111.11111111.11111111.00000000 (255.255.255.0). Konsep ini yang disebut dengan CIDR (Classless Inter-Domain Routing) yang diperkenalkan pertama kali tahun 1992 oleh IEFT.

Subnet Mask yang bisa digunakan untuk melakukan subnetting
Subnet Mask Nilai CIDR
255.128.0.0 /9
255.192.0.0 /10
255.224.0.0 /11
255.240.0.0 /12
255.248.0.0 /13
255.252.0.0 /14
255.254.0.0 /15
255.255.0.0 /16
255.255.128.0 /17
255.255.192.0 /18
255.255.224.0 /19
Subnet Mask Nilai CIDR
255.255.240.0 /20
255.255.248.0 /21
255.255.252.0 /22
255.255.254.0 /23
255.255.255.0 /24
255.255.255.128 /25
255.255.255.192 /26
255.255.255.224 /27
255.255.255.240 /28
255.255.255.248 /29
255.255.255.252 /30

SUBNETTING PADA IP ADDRESS PADA CLASS C
Pada perhitungan Subnetting akan berpusat di 4 hal yaitu :jumlah subnet
  1. jumlah host per subnet
  2. blok subnet
  3. alamat host dan broadcast yang valid.
Jadi untuk dapat melakukan Subnetting yaitu dengan urutan sebagai berikut,
Contoh : Subnetting pada IP Address : 192.168.1.0/26
Analisa :
192.168.1.0 berarti kelas C dengan Subnet Mask /26 berarti 255.255.255.192 atau 11111111.11111111.11111111.11000000.
  1. Hitung Jumlah Subnet = 2x, dimana x adalah banyaknya binari 1 pada 3 oktet terakhir untuk kelas A, 2 oktet terakhir untuk kelas B, dan oktet terakhir untuk kelas C. Jadi Jumlah Subnet adalah 22= 4 subnet.
  2. Hitung Jumlah Host per Subnet = 2y – 2, dimana y adalah adalah kebalikan dari x yaitu banyaknya binari 0 pada 3 oktet terakhir untuk kelas A, 2 oktet terakhir untuk kelas B, dan oktet terakhir untuk kelas C. Jadi jumlah host per subnet adalah 26 – 2 = 62 host.
  3. Hitung Blok Subnet = 256 – 192 (nilai oktet terakhir subnet mask) = 64. Subnet berikutnya adalah 64 + 64 = 128, dan 128+64=192. Jadi subnet lengkapnya adalah 0, 64, 128, 192.
  4. Untuk alamat host dan broadcast yang valid kita dapat membuat tabelnya. Sebagai catatan, host pertama adalah 1 angka setelah subnet, dan broadcast adalah 1 angka sebelum subnet berikutnya.
Subnet
192.168.1.0
192.168.1.64
192.168.1.128
192.168.1.192
Host Pertama
192.168.1.1
192.168.1.65
192.168.1.129
192.168.1.193
Host Terakhir
192.168.1.62
192.168.1.126
192.168.1.190
192.168.1.254
Broadcast
192.168.1.63
192.168.1.127
192.168.1.191
192.168.1.255








Hasil dari Subnetting untuk IP Address 192.168.1.0/26 adalah seperti pada tabel berikut
Subnet Mask Nilai CIDR
255.255.255.128 /25
255.255.255.192 /26
255.255.255.224 /27
255.255.255.240 /28
255.255.255.248 /29
255.255.255.252 /30

SUBNETTING PADA IP ADDRESS PADA CLASS B Subnet mask yang bisa digunakan untuk subnetting class B adalah seperti tabel dibawah. Sengaja dipisahkan menjadi dua blok yaitu, blok sebelah kiri dan kanan karena masing-masing berbeda teknik terutama untuk oktet yang “dihitung” berdasarkan blok subnetnya. CIDR /17 sampai /24 caranya sama persis dengan subnetting Class C, hanya saja blok subnetnya kita masukkan langsung ke oktet ketiga, bukan seperti Class C yang “dihitung” di oktet keempat. Sedangkan CIDR /25 sampai /30 (kelipatan) blok subnet kita “dihitung” di oktet keempat, tapi setelah selesai oktet ketiga berjalan maju (coeunter) dari 0, 1, 2, 3, dst.


Subnet Mask
Nilai CIDR
255.255.128.0 /17
255.255.192.0 /18
255.255.224.0 /19
255.255.240.0 /20
255.255.248.0 /21
255.255.252.0 /22
255.255.254.0 /23
255.255.255.0 /24
Subnet Mask Nilai CIDR
255.255.255.128 /25
255.255.255.192 /26
255.255.255.224 /27
255.255.255.240 /28
255.255.255.248 /29
255.255.255.252 /30

Teknik subnetting untuk Class B. Kita mulai dari yang menggunakan subnetmask dengan CIDR /17 sampai /24.
Contoh : Pada IP Address 172.16.0.0/18.
Analisa :
172.16.0.0 berarti kelas B, dengan Subnet Mask /18 berarti 255.255.192.0 atau 11111111.11111111.11000000.00000000.
Penghitungan:

Jumlah Subnet = 2x, dimana x adalah banyaknya binari 1 pada 2 oktet terakhir. Jadi Jumlah Subnet adalah 22 = 4 subnet.
Jumlah Host per Subnet = 2y – 2, dimana y adalah kebalikan dari x yaitu banyaknya binari 0 pada 2 oktet terakhir. Jadi jumlah host per subnet adalah 214 – 2 = 16.382 host
Blok Subnet = 256 – 192 = 64. Subnet berikutnya adalah 64 + 64 = 128, dan 128+64=192. Jadi subnet lengkapnya adalah 0, 64, 128, 192.

Alamat host dan broadcast yang valid.
Subnet 172.16.0.0 172.16.64.0 172.16.128.0 172.16.192.0
Host Pertama 172.16.0.1 172.16.64.1 172.16.128.1 172.16.192.1
Host Terakhir 172.16.63.254 172.16.127.254 172.16.191.254 172.16.255.254
Broadcast 172.16.63.255 172.16.127.255 172.16.191.255 172.16..255.255

Selanjutnya untuk Class B khususnya untuk yang menggunakan subnetmask CIDR /25 sampai /30.
Contoh :
IP address 172.16.0.0/25.
Analisa : 172.16.0.0 berarti kelas B, dengan Subnet Mask /25 berarti 255.255.255.128 atau 11111111.11111111.11111111.10000000.
Penghitungan :
Jumlah Subnet = 29 = 512 subnet
Jumlah Host per Subnet = 27 – 2 = 126 host
Blok Subnet = 256 – 128 = 128. Jadi lengkapnya adalah (0, 128).

Alamat host dan broadcast yang valid.
Subnet 172.16.0.0 172.16.0.128 172.16.1.0 172.16.255.128
Host Pertama 172.16.0.1 172.16.0.129 172.16.1.1 172.16.255.129
Host Terakhir 172.16.0.126 172.16.0.254 172.16.1.126 172.16.255.254
Broadcast 172.16.0.127 172.16.0.255 172.16.1.127 172.16.255.255

SUBNETTING PADA IP ADDRESS PADA CLASS A
Konsepnya sama saja. Perbedaannya adalah di OKTET mana kita akan menghitung blok subnet. Kalau Class C di oktet ke 4 (terakhir), kelas B di Oktet 3 dan 4 (2 oktet terakhir), kalau Class A di oktet 2, 3 dan 4 (3 oktet terakhir). Kemudian subnet mask yang bisa digunakan untuk subnetting class A adalah semua subnet mask dari CIDR /8 sampai /30.

Contoh : IP address 10.0.0.0/16.
Analisa : 10.0.0.0 berarti kelas A, dengan Subnet Mask /16 berarti 11111111.11111111.00000000.00000000 (255.255.0.0).
Penghitungan :
Jumlah Subnet = 28 = 256 subnet
Jumlah Host per Subnet = 216 – 2 = 65534 host
Blok Subnet = 256 – 255 = 1. Jadi subnet lengkapnya: 0,1,2,3,4,dst.

Alamat host dan broadcast yang valid.

Subnet
10.0.0.0 10.1.0.0 10.254.0.0 10.255.0.0
Host Pertama 10.0.0.1 10.1.0.1 10.254.0.1 10.255.0.1
Host Terakhir 10.0.255.254 10.1.255.254 10.254.255.254 10.255.255.254
Broadcast 10.0.255.255 10.1.255.255 10.254.255.255 10.255.255.255

Catatan : Semua penghitungan subnet diatas berasumsikan bahwa IP Subnet-Zeroes (dan IP Subnet-Ones) dihitung secara default. Buku versi terbaru Todd Lamle dan juga CCNA setelah 2005 sudah mengakomodasi masalah IP Subnet-Zeroes (dan IP Subnet-Ones) ini. CCNA pre-2005 tidak memasukkannya secara default (meskipun di kenyataan kita bisa mengaktifkannya dengan command ip subnet-zeroes), sehingga mungkin dalam beberapa buku tentang CCNA serta soal-soal test CNAP, anda masih menemukan rumus penghitungan Jumlah Subnet = 2x – 2.